Jaket Kulit Domba Garut, Diburu Warga Biasa hingga Gubernur

Jaket Kulit Domba Garut, Diburu Warga Biasa hingga Gubernur
http://2.bp.blogspot.com/-KWeyJIfrmZ8/VRO-nvaVA4I/AAAAAAAAAgM/0Uv3w4ci8CE/s72-c/sukaregang.jpg
Liputan6.com, Jakarta Selain dodol, Kabupaten Garut Jawa Barat tersohor dengan kerajinan kulit asli domba. Kulit tersebut disulap menjadi ragam produk berkualitas tinggi sehingga banyak diburu dari kalangan pengusaha sampai pejabat daerah setingkat Gubernur.


Ada yang menarik di pameran APKASI International Trade and Investment Summit 2014 di JIEXpo Kemayoran.
Sebuah stan Kabupaten Garut tak henti-hentinya dikerubungi pengunjung yang silih berganti datang untuk sekadar melihat atau bahkan membeli produk buatan sepasang suami istri Wulan dan Wahyu.    

Dari dekat, jejeran jaket, tas dan sepatu asli kulit domba Garut itu begitu sedap dipandang mata. Ketika tangan mulai meraba produk tersebut, bahan kulit domba terasa sangat halus dan lembut.

Wahyu kepada Liputan6.com mengaku, domba Garut memiliki kualitas kulit yang sangat bagus bila dibandingkan domba-domba pada umumnya.

"Kulit domba Garut beda, kalau yang lain  jelek. Ini lembut sekali karena domba Garut kan dikandangkan jadi makanannya terjamin dan terbebas dari penyakit kulit jadi pengaruh ke kualitas kulit. Sedangkan domba lain kan digembalakan," jelasnya, Selasa (15/4/2014).

Wahyu mengaku, untuk memproduksi jaket kulit domba memerlukan proses penyamakan sekitar satu bulan. Proses itu dikerjakan mulai dari penggaraman supaya kulit tidak membusuk sampai kepada tahap finishing atau pengecatan.

Tahapan pewarnaan terdiri dari dua macam, yakni dicat dan dicelup. Proses keduanya akan menghasilkan kualitas warna yang berbeda sehingga akan sangat menentukan harga jual.

Jika kualitas warna ingin terlihat bagus, bisa memilih jaket kulit yang proses pewarnaannya dicelup. Bahan pewarna, tambah Wahyu masih harus didatangkan dari Korea.

"Dalam sehari, kami bisa menjual 10 potong jaket kulit. Makanya penyamakan dikerjakan jauh-jauh hari sesuai permintaan. Sementara produk lain seperti tas, topi, sarung tangan, dompet dan lainnya kami ambil dari pengrajin lain," lanjut dia.

Saat ini, kata dia, kapasitas produksi usaha berskala kecil menengah ini baru mencapai 60 pieces jaket kulit. Itu pun harus dibantu dengan tiga orang pekerja.

Wahyu menyebut, harga jual jaket kulit asli domba dipatok paling murah Rp 900 ribu dan Rp 2 juta paling mahal.
Sedangkan sepatu kulit mulai dari Rp 200 ribu sampai Rp 500 ribu per pasang. Dan harga jual tas dibanderol Rp 700 ribu hingga Rp 1 juta per pieces.

"Harganya memang mahal karena tergantung kualitas dan kebutuhan kulit. Misalnya satu jaket berukuran besar butuh 4 kulit domba," ujarnya.

Karena harganya yang cukup menguras kantong, tak heran bila pembelinya adalah kalangan menengah ke atas. Dia mengaku kerap memperoleh pesanan jaket kulit dari seluruh daerah di Indonesia dan Malaysia.

"Tapi senangnya Walikota sampai Gubernur pernah membeli jaket kulit kami, seperti Walikota Bandung, Palembang. Walaupun Menteri belum ada yang beli," ucap pemilik Showroom di Jalan Gagak Lumayung Sukaregang, Garut.

Sang istri, Wulan mengaku, bisa mengantongi omzet Rp 20 juta-Rp 30 juta dengan penjualan puluhan potong jaket kulit dan lainnya.

"Ya namanya dagang, omzet kadang turun naik karena industri kulit sekarang banyak saingan. Bahan baku juga makin susah dapatnya. Tapi ya disyukuri saja," tutup dia.

Sumber
Share this product :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template | Redesigned :Tukang Toko Online
Copyright © 2011. Republik Leuweungtiis - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger